Showing posts with label Arceology. Show all posts
Showing posts with label Arceology. Show all posts

Thursday, January 12, 2012

Penemuan Tulang Naga di Bangka



Whooila!
Penemuan tulang rangka yang di issukan sebagai tulang Naga berkaki enam membuat heboh 
masyarakat Toboali Provinsi Bangka Belitung. Konon katanya panjangnya mencapai ratusan meter. 
Temuan tulang belulang ini menarik perhatian warga sekitar Toboali.

Belum bisa dipastikan apakah tulang belulang itu adalah tulang seekor naga, namun sebagian orang
 yang telah melihat menduga itu bukan tulang naga, tetapi ikan paus. Tulang belulang itu ditemukan 
kedalaman sekitar tiga meter di depan muara sungai Nyire.

Sementara ini tulang belulang itu disimpan di rumah salah seorang penemunya di Desa Limus, 
sekitar 15 kilometer arah utara Toboali melewati daerah transmigrasi. Bersumber dari Kaskus, 
salah satu komunitas online di Indonesia, kerangka tersebut ditemukan pada hari kelima bulan 
puasa lalu.

Saat ditemukan terlihat ada semacam pukat yang tersangkut sesuatu yang tersembul di atas 
permukaan air. Nah, setelah didekati dan ditusuk-tusuk dengan ujung dayung ternyata itu adalan 
kerangka tulang yang posisinya melengkung seperti bulan sabit.

Seterusnya kerangka tersebut diambil dengan angkutan perahu. Untuk kerangka bagian kepala 
diperlukan tenaga 15 orang untuk mengangkatnya.

Selain adanya pukat, sesuatu yang menonjol lainnya adalah bulu-bulu dan tanduk pada kepala 
kerangkan tersebut. Bulu-bulu tersebut seperti layaknya rumbai bulu pada kepala seekor kuda.

Lingkar badan mahluk tersebut berkisar sekitar 2 meter dengan panjang badan sekitar 15 meter. 
Dilihat dari bentuk kerangka kepala mengarah kepada bentuk seeokor ikan paus. Hanya pada tulang 
ekor yang masih terdapat sisa daging yang menempel, pada bagian tulang yang lain bersih dan 
berwarna putih kusam.

Cerita Rakyat Tentang Naga
ISTILAH naga merupakan kata serapan dari bahasa Sansekerta atau India kuna yang bermakna 
"ular". Dalam naskah Mahabharata dikisahkan, para Naga merupakan anak-anak Resi Kasyapa 
dari perkawinannya dengan Dewi Kadru. Nama-nama mereka yang terkenal antara lain Sesa, 
Taksaka, Basuki, Karkotaka, Korawya, dan Dritarastra.

Dalam tradisi Cina juga terdapat makhluk bernama Liong atau Lung yang umumnya diterjemahkan 
ke dalam bahasa Indonesia dengan istilah naga. Makhluk ini digambarkan sebagai ular berukuran 
raksasa, lengkap dengan tanduk, sungut, dan cakar, sehingga berbeda dengan naga versi India. 
Sebagian ilmuwan berpendapat, naga Cina merupakan makhluk khayal yang diciptakan oleh 
masyarakat zaman dahulu akibat penemuan fosil dinosaurus. Makhluk ini juga dikenal dalam 
kebudayaan Jepang dengan istilah Ryu.

Di Indonesia sendiri pernah heboh dengan ditemukannya sepasang ular raksasa mirip dengan 
Naga yang melintas di sungai Mahakam di Kutai Barat berukuran sebesar drum atau berdiameter 
sekitar 60 sentimeter dengan panjang sekitar 40 meter. Ular raksasa itu terlihat meliuk di permukaan
 air di Riam Haloq, Kampung Long Tuyoq, Kecamatan Long Pahangai, pada saat melintas naga 
tersebut berhasil di abadikan lewat kamera ponsel milik motoris longboat karena menganggap
itu sebuah momen langka.

Naga dalam budaya Kalimantan, kususnya suku Dayak dan suku Banjar dianggap sebagai simbol 
alam bawah. Naga digambarkan hidup di dalam air atau tanah dan disebut sebagai Naga Lipat Bumi. 
Naga merupakan perwujudan dari Tambun yaitu makhluk yang hidup dalam air.









Dalam budaya Banjar, alam bawah merupakan milik Puteri Junjung Buih sedangkan alam atas 
milik Pangeran Suryanata. Setelah berkembangnya agama Islam, maka oleh suku Banjar 
alam atas dianggap dikuasai oleh Nabi Daud, sedangkan alam bawah dikuasai oleh Nabi Khidir.

Dalam arsitektur rumah Banjar, makhluk Naga dan burung Enggang diwujudkan dalam bentuk 
ukiran, tetapi sebagai budaya yang tumbuh di bawah pengaruh agama Islam yang tidak 
memperkenankan membuat ukiran makhluk bernyawa, maka bentuk-bentuk makhluk bernyawa 
tersebut disamarkan atau didistilir dalam bentuk ukiran tumbuhan.

Tuesday, November 22, 2011

Bangunan 'Piramida' Tertua Ditemukan di Garut

Rachmadin Ismail - detikNews

Jakarta - Tim katastropik purba menduga ada bangunan berbentuk piramida di Desa Sadahurip dekat Wanaraja Garut, Jawa Barat. Dari temuan itu, ada fakta yang cukup mengagetkan. Apa itu?

Dari hasil penelitian intensif dan uji karbon dipastikan bahwa umur bangunan yang terpendam dalam gunung tersebut lebih tua dari Piramida Giza.

“Dari beberapa gunung yang di dalamnya ada bangunan menyerupai piramid, setelah diteliti secara intensif dan uji karbon dating, dipastikan umurnya lebih tua dari Piramida Giza,” terang Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana Andi Arief dalam rilils kepada detikcom, Minggu (22/11/2011).

Sekedar catatan, Piramida Giza selama ini dikenal sebagai piramida tertua dan terbesar dari 3 piramida yang ada di Nekropolis Giza. Dipercaya bahwa piramida ini dibangun sebagai makam untuk firaun dinasti keempat Mesir, Khufu dan dibangun selama lebih dari 20 tahun dan diperkirakan berlangsung pada sekitar tahun 2560 sebelum Masehi.

Andi menerangkan, dalam beberapa waktu ke depan, Tim Katastropik Purba akan melakukan paparan ke publik tentang temuan-temuannya tersebut. Tak hanya soal temuan piramida di Garut tersebut, tim ini nantinya juga akan memaparkan temuan istimewa di kawasan Trowulan, Batu Jaya, beberapa lokasi menhir di Sumatera dan lain-lain.

“Ada temuan mencengangkan tentang uji karbon dating pada 3 lapis kebudayaan di kawasan Trowulan yang terlanjur kita sebut Majapahit pada zaman sejarah masehi itu. Juga tentang temuan-temuan lapisan sejarah di Lamri Aceh dan sekitarnya,” terang Andi.

Terhadap temuan ini, sambung Andi, Tim Katastropik Purba juga akan terus berkoordinasi dengan bidang kepurbakalaan, antropologi, arkeologi, pakar budaya, ahli sejarah dan lainnya. D isamping akan terus berkoordinasi lintas ilmu kebumian sehubungan dengan temuan-temuan sejarah bencana-bencana lokal dan global untuk dicari mitigasinya.

Sekedar catatan, beberapa hasil penelitian Tim Katastropik Purba ini telah disampaikan kepada publik. Diantaranya, rekomendasi agar 3 gunung di Jawa Barat yakni Gunung Kaledong, Gunung Putri, dan Gunung Haruman dijadikan sebagai cagar budaya.

Rekomendasi itu atas dasar penelitian melalui metoda ilmu kebumian, meneliti sumber-sumber bencana alam dan melacak informasi dari masa lalu yang berkaitan dengan kejadian bencana alam katastropik.

Obyek penelitian lain yang berada pada jalur-jalur patahan gempabumi dan gunung api di sepanjang Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa timur, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan sampai Papua, terus dikaji secara ilmiah.

“Hasil penelitian-penelitian lanjutan tentang ini akan disampaikan ke publik,” pungkas Andi.

Tuesday, November 15, 2011

Gobekli Tepe and Atlantis

By
Archaeology www.achill-fieldschool.com Achill Archaeological Field School Academic Credit NUIGalway, Ireland
Meet Indonesian Women www.IndonesianCupid.com Meet Indonesian Singles For Dating Chat & More. Join Free Now.
Translator Jobs www.RealTranslatorJobs.com $10-$55/Hour. Found: 386 Jobs in your area. Hiring Now!
Expert Author Zarin Sherrick
For the last century, archeology has maintained that human civilization arose around 5,000 years ago almost simultaneously in both Egypt and Mesopotamia. The bets were on, that the Sumerians; who lived near the Delta of the Tigris and Euphrates Rivers in modern day Iraq, were the actual originators of mankind's first civilization. Conservative archeologists now have a major conundrum on their hands.
An archeological dig, currently underway at a place called Gobekli Tepe in Southern Turkey, threatens to undermine all this archeological dogma. The dating of this site is set at around 9500 BCE. That is over 11,000 to 12,000 years ago. 6,000 years before Egypt or Sumeria. That means that civilization on an advanced level goes almost twice as far back in time. What is most strange about this particular site is that it is built in different stages and all of it was purposely buried. Even stranger is that the oldest structures uncovered are the more advanced. The oldest known Sphinx on Earth has also been discovered there and is dated at around 9500BCE.
The basic shape of the so far unearthed complexes are of three concentric rings and bear a resemblance to the kivas of abandoned Pueblo Cultures in the Southwest US. Unusual T shaped columns of various heights and thicknesses are located in the center of each central ring. Each column has some carving on it, which archeologists have deduced may represent various Constellations in the Heavens. Although the site has only been about 5% uncovered, no residential or living areas have yet been found. Nor have any graves or burial sites, either. What has been dug up was clearly used for some form of religious or ceremonial purpose. Making this the oldest known religious site on Earth.
But why purposely bury all of this? Why are the oldest structures the more advanced? Why the 3 ringed structures? Why was a Sphinx created in Gobekli Tepe 6,000 years before the Great Sphinx was reputedly built in Egypt? Perhaps for the same reason that we build architectural structures in the exact same style of the Greeks and Romans. We still do this over 1500 years after the Fall of the Roman World. Why? Because we wish to associate these structures with the power and authority associated with the magnificence of the Greek and Roman Civilizations.
There are many ancient sites associated with strange and esoteric mythology. Much of the origin of these myths has been lost to the fog of time through war, erosion, Earth changes and natural disasters. Yet that doesn't mean there isn't some foundation of truth to all of them.
On the Northwestern tip of Morocco, an archeological dig is underway at a site called Lixus. Much of Lixus is still to be uncovered. Lixus is currently about 3 kilometers inland from the Atlantic Ocean and is said in ancient historical records to be near where the Garden of the Hesperides was located. The Garden of the Hesperides in Morocco? The Hesperides, of Greek legend, are 3 nymphs who tended golden apple trees with forbidden fruit. These gold apples held the secrets of the Gods within them. Does a Garden with forbidden apples sound familiar? Why would the Greeks believe that the Garden of Hesperides was located near Morocco? So many legends surround the ancient World, that there has to be an original truth to them. There must be a currently lost location in Morocco, where this legend originated. Possibly one of Atlantis's destroyed Colonies? Or maybe the actual Garden of Eden?
The fabled city of Troy comes from Homer's classic,"The Iliad" which archeologists considered a "fabrication" until Heinrich Schliemann actually unearthed the city and proved it did exist. The exact same things are being said of another fabled place.
Which brings me to Atlantis. The only known mention of Atlantis was made by Plato in his Timaeus and Critias dialogues which I will not re-iterate here. Only that Plato specifically states: "that it was an island continent larger than Libya and Asia combined." Now I don't know if you have looked at any maps of Libya, but any land mass that large was pretty big. To the Greeks of Plato's time "Asia" was essentially what we now refer to as Asia Minor. Another reasonably sized landmass. Put the two together and you don't come up with Santorini, Cyprus, Bimini, Southern Spain nor any of the other currently in vogue Atlantis candidates. Not even if you combined them all.
Libya and Asia minor together are larger than the entire Mediterranean Sea. Which Plato considered a "lake" compared to the outer ocean in which Atlantis was specifically located.. Plato also states that Atlantis was west of the pillars of Hercules, what is now the Straits of Gibraltar, definitely in the greater ocean. That which we euphemistically have named the Atlantic. Plato also stated: "Atlantis disappeared within a single day and night 10,000 years before his time." Which, for Plato was 10,000 years before 360 BCE.
Now you do the math. Gobekli Tepe is dated around 9500 BCE and Atlantis around 10,000 BCE. Which means they existed around the same approximate time. Atlantis was described by Plato as having 3 concentric rings of land surrounding it. Gobekli Tepe is constructed along a 3 concentric ring design as well. A cultural echo similar to our copying of Greco-Roman architectural styles?
Recently, evidence of what appears to be a gigantic tsunami is being uncovered all around the Eastern Mediterranean dated to have occurred around 8,000 BCE. Take the land mass the size of Atlantis, as described by Plato and suddenly sink it into the ocean and you are going to have a displacement of water on a scale never before seen by man. Tidal waves of 2-3 miles in height would race across the world's waterways destroying everything under the height of those waves. And drive deep into the interior of most landmasses. Destroying everything along any of the World's coastlines. This would account for all the Great Deluge myths and possibly all this tsunami evidence now accumulating around the Mediterranean Sea.
This could also explain why Gobekli Tepe exists only 100 miles from Mt. Ararat, Turkey, where the Biblical Noah is said to have departed his Ark. There is always some foundation of truth in all myths. A surviving ship from Atlantis could have been carried to and deposited on Mt Ararat by a tidal wave of such incredible height. Those, who exited this Ark could have created a nearby community for some continuation of their culture. Or created many small communities and then constructed Gobeli Tepe as a central location solely for religious/astronomical, or communal reasons.
The trauma of the Atlantis disaster, and the ensuing economic hardship may have caused a slow decline in the level of technology and craftsmanship at Gobekli Tepe. Atlantis was a seafaring civilization with a tremendous sea food based infra-structure. Gobekli Tepe is nowhere near the Sea. So there must have been a period of some food shortages and nutritional decline. Possibly, even diseases caused by vitamin deficiencies could have afflicted them. There may also have been a severe lessening in population over the years of Gobekli Tepe's existence, which meant shortcuts in construction techniques. Thus, lower quality construction became necessary.
But why bury this site and not simply abandon it? Because, either they planned to return at some future date or they wanted something kept preserved there for future discovery.
Future excavations at Gobekli Tepe may reveal some startling surprises from mankind's past. I recently E-mailed a request to one of the archeologists working at Gobekli Tepe to get a visual on the sphinx discovered there. No response has come back. It is my considered opinion, that some of the discoveries at Gobekli Tepe are being purposely withheld from public perusal. I am not the only one who has requested this Sphinx image. Established archeology may deeply fear what the discoveries at Gobekli Tepe may imply.
About the Author: Zarin was educated with an intense interest in both science and logic, as well as a great preference for history. He is also a psychic and the author of Atlantis: A Karmic Memory of the Rise & Fall, a history of Atlantis taken from channeled information which is available at http://bookofatlantis.com.

Thursday, November 10, 2011

11 Kekayaan Alam dan Budaya Dunia Yang Diakui Sebagai "Warisan Dunia"


Kekayaan alam dan budaya Indonesia sungguh menakjubkan, ini dibuktikan dengan dikukuhkannya banyak dari budaya dan kekayaan Indonesia sebagai "world heritage" atau warisan dunia oleh UNESCo dan 11 diantaranya adalah

1. Taman Nasional Ujung Kulon
Taman yang menjadi taman nasional pertama yang diresmikan di Indonesia ini mendapatkan pengakuan dari UNESCO pada tahun 1991. Taman nasional ini terletak di bagian paling barat dari Pulau Jawa. Taman yang juga meliputi wilayah Krakatau dan beberapa pulau kecil di sekitarnya seperti Pulau Handeuleum dan Pulau Peucang ini memiliki luas sekitar 1.206 km2, di mana 443 km2 di antaranya adalah laut. Sebenarnya, pada awalnya, taman ini merupakan daerah pertanian sampai akhirnya menjadi hancur lebur dan habis penduduknya akibat letusan Gunung Krakatau pada tanggal 27 Agustus 1883. Kejadian tersebut menyebabkan kawasan ini kembali menjadi hutan.

Saat ini kawasan tersebut dijadikan sebagai kawasan perlindungan untuk satwa langka badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan satwa langka lainnya. Satwa langka lain yang dilindungi selain badak Jawa adalah banteng (Bos javanicus javanicus), ajag (Cuon alpinus javanicus), surili (Presbytis comata comata), lutung (Trachypithecus auratus auratus), rusa (Cervus timorensis russa), macan tutul (Panthera pardus), kucing batu (Prionailurus bengalensis javanensis), owa (Hylobates moloch), dan kima raksasa (Tridacna gigas).

2. Taman Nasional Komodo
Taman Nasional Komodo mendapatkan pengakuan dari UNESCO pada tahun 1991. Taman yang terletak di antara pulau Sumbawa dan Flores ini terdiri atas tiga pulau besar, yakni Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Padar serta beberapa pulau kecil lainnya. Taman ini didirikan pada tahun 1980 untuk melindungi komodo serta habitatnya. Selain komodo, di taman nasional ini juga terdapat sekitar 277 spesies hewan lainnya yang merupakan perpaduan hewan yang berasal dari Asia dan Australia. Selain itu, terdapat pula sekitar 253 spesies terumbu karang di perairannya yang terkenal juga sebagai salah satu titik terbaik di dunia untuk menyelam. Kini, taman nasional ini juga masuk menjadi salah satu dari nominasi 7 keajaiban dunia.

3. Taman Nasional Lorentz

Taman Nasional Lorentz, Papua Barat diakui oleh UNESCO pada tahun 1999. Dengan luas wilayah sebesar 25.000 km2, taman nasional ini merupakan yang terbesar di Asia Tenggara. Kawasan ini juga merupakan salah satu di antara tiga kawasan di dunia yang memiliki gletser di daerah tropis. Taman ini memiliki keanekaragaman hayati yang mengagumkan. Jenis-jenis satwa yang sudah diidentifikasi di taman ini berjumlah sekitar 630 jenis burung dan 123 jenis mamalia. Jenis burung yang menjadi ciri khas taman nasional ini yakni dua jenis kasuari, empat megapoda, 31 jenis dara/merpati, 30 jenis kakatua, 13 jenis burung udang, 29 jenis burung madu, dan 20 jenis endemik di antaranya cendrawasih ekor panjang (Paradigalla caruneulata) dan puyuh salju (Anurophasis monorthonyx). Satwa mamalia yang tercatat antara lain babi duri moncong panjang (Zaglossus bruijnii), babi duri moncong pendek (Tachyglossus aculeatus), 4 jenis kuskus, walabi, kucing hutan, dan kanguru pohon.

4. Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatera (Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan)
Warisan hutan hujan tropis Sumatera yang meliputi tiga taman nasional tersebut mendapatkan pengakuan dari UNESCO pada tahun 2004.
Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) sendiri merupakan salah satu kawasan pelestarian alam yang secara administrasi pemerintahan terletak di dua provinsi, yakni Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara. TNGL ini meliputi ekosistem asli dari pantai sampai pengunungan tinggi yang diliputi oleh hutan lebat khas hujan tropis. Di kawasan TNGL ini, terdapat tumbuhan langka dan khas yaitu daun payung raksasa (Johannesteijsmannia altifrons), bunga raflesia (Rafflesia atjehensis dan R. micropylora) serta Rhizanthes zippelnii yang merupakan bunga terbesar dengan diameter 1,5 meter. Selain itu, terdapat tumbuhan yang unik yaitu ara atau tumbuhan pencekik.

Sedangkan, taman nasional Kerinci Seblat merupakan taman nasional yang terbesar di Sumatera. Taman ini membentang ke empat provinsi, yakni Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, dan Sumatera Selatan. Taman ini terdiri dari Pegunungan Bukit Barisan yang merupakan wilayah dataran tertinggi di Sumatera, mata air-mata air panas, sungai-sungai beraliran deras, gua-gua, air terjun-air terjun dan danau kaldera tertinggi di Asia Tenggara, Gunung Tujuh. Taman nasional ini juga memiliki beragam flora dan fauna. Sekitar 4.000 spesies tumbuhan tumbuh di wilayah taman nasional termasuk bunga terbesar di dunia Rafflesia arnoldi, dan bunga tertinggi di dunia, Titan Arum. Fauna di wilayah taman nasional terdiri antara lain Harimau Sumatra, Badak Sumatra, Gajah Sumatra, Macan Dahan, Tapir Melayu, Beruang Madu dan sekitar 370 spesies burung.
Taman Nasional Bukit Barisan Selatan termasuk dalam administrasi wilaya Lampung Barat dan wilayah Tanggamus, di mana keduanya adalah bagian dari Provinsi Lampung. Taman ini sangat kaya dalam hal keanekaragaman hayati dan merupakan tempat tinggal bagi tiga jenis mamalia besar yang paling terancam di dunia: gajah Sumatera (kurang dari 2000 ekor yang bertahan hidup saat ini), badak Sumatera (populasi global keseluruhan: 300 individu dan semakin berkurang drastis jumlahnya) dan harimau Sumatera (populasi global keseluruhan sekitar 400 individu).

Taman ini masuk juga dalam Global 200 Ecoregions, yaitu peringkat habitat darat, air tawar dan laut di bumi yang paling mencolok dari sudut pandang biologi yang dibuat oleh WWF. Taman ini disorot sebagai daerah prioritas untuk pelestarian badak Sumatera melalui program Asian Rhino and Elephant Action Strategy (AREAS) dari WWF. Selain itu, IUCN, WCS dan WWF telah mengidentifikasi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan sebagai Unit Pelestarian Macan (Wikramanayake, dkk., 1997), daerah hutan yang paling penting untuk pelestarian harimau di dunia. Terakhir, pada tahun 2002, UNESCO telah memilih daerah ini untuk diusulkan sebagai World Heritage Cluster Mountainous Area beserta Taman Nasional Gunung Leuser dan Kerinci Seblat.

World Heritage of Culture
Indonesia memiliki 3 objek dengan status “World Heritage of Culture”. Objek-objek tersebut antara lain adalah:

1. Candi Borobudur
Candi Borobudur mendapatkan pengakuan dari UNESCO pada tahun 1991. Merupakan candi Buddha yang terletak di Magelang, Jawa Tengah. Candi ini didirikan oleh penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Candi yang bila dilihat dari atas membentuk struktur Mandala (lambang alam semesta dalam kosmologi Buddha) ini tidak memakai semen sama sekali dalam pembangunannya, melainkan dengan sistem interlock (seperti balok Lego yang bisa menempel tanpa lem).


2. Candi Prambanan
Candi Prambanan mendapatkan pengakuan dari UNESCO pada tahun 1991. Merupakan kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia. Candi yang terletak 17 km dari pusat kota Yogyakarta ini dibangun di abad ke-10 pada masa pemerintahan dua raja, yakni Rakai Pikatan dan Rakai Balitung. Candi ini memiliki tiga candi utama di halaman utama, yakni Candi Wisnu, Brahma, dan Siwa. Ketiga candi tersebut merupakan lambang Trimurti dalam kepercayaan Hindu.


3. Situs Sangiran
Situs Sangiran diakui UNESCO pada tahun 1996. Merupakan sebuah situs arkeologi yang terletak di Jawa Tengah. Secara administratif terletak di kabupaten Sragen dan Karanganyar. Pada awalnya penelitian Sangiran adalah sebuah kubah yang dinamakan Kubah Sangiran. Puncak kubah ini kemudian terbuka melalui proses erosi sehingga membentuk depresi. Pada depresi itulah dapat ditemukan lapisan tanah yang mengandung informasi tentang kehidupan di masa lampau. Di situs ini, kita bisa menemukan banyak informasi soal sisa-sisa kehidupan masa lampau. Selain itu, terdapat informasi lengkap tentang sejarah kehidupan manusia purba dengan segala hal yang ada di sekelilingnya. Dari soal tempat hidup, pola kehidupannya, satwa yang hidup bersamanya sampai proses terjadinya bentang alam dalam kurun waktu tidak kurang dari 2 juta tahun yang lalu.

World Heritage of Intangible Culture
Di kategori ini, Indonesia memiliki 4 objek, yakni:
1. Wayang
Merupakan seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Pulau Jawa dan Bali. Sunan Kali Jaga dan Raden Patah sangat berjasa dalam mengembangkan Wayang. Para Wali di Tanah Jawa sudah mengatur sedemikian rupa menjadi tiga bagian. Pertama Wayang Kulit di Jawa Timur, kedua Wayang Wong atau Wayang Orang di Jawa Tengah, dan ketiga Wayang Golek di Jawa Barat. Masing masing sangat bekaitan satu sama lain. Yaitu “Mana yang Isi (Wayang Wong) dan Mana yang Kulit (Wayang Kulit) harus dicari (Wayang Golek)”. Pertunjukan wayang telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan sangat berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).
Saat ini, wayang tidak hanya sebatas wayang kulit dan wayang orang saja, ada juga e-wayang yang keseluruhan proses pembuatannya menggunakan sarana dan fasilitas digital. E-wayang dapat dilihat melalui website

2. Keris
Keris mendapatkan pengakuan UNESCO pada tahun 2005. Keris yang saat ini kita kenal adalah hasil proses evolusi yang panjang. Keris modern yang dikenal saat ini adalah belati penusuk yang unik dengan bermacam bentuk. Selain digunakan sebagai senjata, keris juga sering dianggap memiliki kekuatan supranatural. Senjata ini sering disebut-sebut dalam berbagai legenda tradisional, seperti keris Mpu Gandring dalam legenda Ken Arok dan Ken Dedes.


3. Batik
Batik diakui sebagai World Heritage oleh UNESCO pada tahun 2009. Untuk merayakannya, Indonesia menjadikan setiap tanggal 2 Oktober sebagai hari batik nasional. Batik Indonesia memiliki motif bermacam-macam tergantung pada daerahnya.

4. Angklung
Angklung direncanakan akan mendapatkan pengakuan dari UNESCO pada tanggal 18 November yang akan datang. Alat musik bambu yang dapat menghasilkan suara sangat indah ini gemanya sudah terkenal hingga ke mancanegara.

sumber http://blognyajose.blogspot.com/2010/10/11-objek-wisata-indonesia-yang.html

Sejarah dan Legenda Benua yang Hilang ; Lemuria


Mu adalah nama sebuah benua hipotetis yang diduga ada di salah satu lautan bumi, tetapi menghilang pada awal sejarah manusia.
Konsep dan nama itu diusulkan oleh traveler abad ke-19 dan penulis Augustus Le Plongeon, yang mengklaim bahwa beberapa peradaban kuno, seperti Mesir dan Mesoamerika, diciptakan oleh pengungsi dari Mu – yang terletak di Samudra Atlantik.

Konsep ini dipopulerkan dan dikembangkan oleh James Churchward, yang menegaskan bahwa Mu pernah terletak di Pasifik.

Keberadaan Mu sudah diperdebatkan oleh Le Plongeon’s. Saat ini, para ilmuwan universal menolak konsep Mu (dan benua hilang lain seperti Lemuria) secara fisik tidak mungkin, karena benua tidak dapat tenggelam atau hancur dalam waktu singkat . Mu hari ini dianggap sebagai tempat fiktif/dongeng


Sejarah dan Konsep
Augustus Le Plongeon

Ide Mu pertama kali muncul dalam karya-karya Augustus Le Plongeon (1825-1908), setelah penyelidikan tentang reruntuhan Maya di Yucatán. Ia mengklaim bahwa ia telah menerjemahkan tulisan-tulisan Maya kuno, yang seharusnya menunjukkan bahwa Maya Yucatán lebih tua dari peradaban Yunani dan Mesir.

Le Plongeon sebenarnya mendapatkan nama “Mu” dari Charles Étienne Brasseur de Bourbourg yang pada tahun 1864 salah menerjemahkan apa yang kemudian disebut Codex Troano menggunakan alfabet de Landa. Brasseur percaya bahwa sebuah kata yang ia baca sebagai Mu dimaksud tanah yang terendam oleh bencana. Le Plongeon kemudian meng-indentifikasi tanah ini hilang dengan Atlantis, dan mengubahnya menjadi sebuah benua yang diduga tenggelam ke Samudera Atlantik.

Le Plongeon mengklaim bahwa peradaban Mesir kuno didirikan oleh Ratu Moo, seorang pengungsi sejak runtuh/menghilangnya tanah kelahirannya. pengungsi lain diduga melarikan diri ke Amerika Tengah dan menjadi bangsa Maya
James Churchward

Le Plongeon benua yang hilang kemudian dipopulerkan oleh James Churchward (1851-1936) dalam serangkaian buku, dimulai dengan “Lost Continent of Mu”, “the Motherland of Man” (1926), diedit kembali kemudian sebagai “The Lost Continent Mu” (1931). buku-buku populer lain dalam seri ini adalah “The Children of Mu” (1931), dan “The Sacred Symbols of Mu” (1933).

Churchward memberikan gambaran jelas tentang Mu sebagai rumah sebuah peradaban maju, Naacal, yang berkembang antara 50.000 dan 12.000 tahun yang lalu, didominasi oleh ras putih, dan unggul dalam banyak hal.

Pada saat kematian, sekitar 12.000 tahun yang lalu, Mu telah mencapai 64.000.000 jiwa dan tersebar di beberapa kota besar.

Churchward mengklaim bahwa daratan Mu terletak di Samudra Pasifik, dan membentang timur-barat dari Marianas ke Pulau Paskah, dan utara-selatan dari Hawaii ke Mangaia. Dia menyatakan bahwa menurut mitos terciptanya Mu telah terangkat di atas permukaan laut oleh ekspansi gas vulkanik bawah tanah. Akhirnya Mu benar-benar dihapuskan di hampir satu malam. setelah serangkaian gempa bumi dan letusan gunung berapi.

Churchward mengklaim bahwa Mu adalah asal mula dari peradaban besar dari Mesir, Yunani, Amerika Tengah, India, Burma dan lain-lain, termasuk Pulau Paskah, dan khususnya sumber arsitektur megalitik kuno. Sebagai bukti untuk klaim, ia menunjuk simbol dari seluruh dunia, di mana ia melihat tema umum burung, hubungan bumi dan langit, dan terutama Matahari.

Pernyataan Terkini

James Bramwell dan William Scott-Elliot mengklaim bahwa peristiwa bencana pada Mu mulai 800.000 tahun yang lalu dan terus sampai bencana terakhir, yang terjadi tepatnya di 9564 SM.

Pada tahun 1930, Atatürk, pendiri Republik Turki, tertarik dalam pekerjaan Churchward dan dianggap Mu mungkin sebagai lokasi dari tanah air asli Turki.

Masaaki Kimura telah menyarankan bahwa fitur bawah air tertentu yang berada di lepas pantai Pulau Yonaguni, Jepang (dikenal sebagai Monumen Yonaguni) adalah reruntuhan Mu (atau “reruntuhan dunia yang hilang dari Muin” menurut CNN).

Foto Pencarian Articel Mu di Pulau Yonaguni Jepang

Susunan Kota Seperti Penyu Raksasa

Dongengan Jawa mengatakan jika Kota Penyu Raksasa ini bergerak berarti berlaku gempa bumi dan letusan gunung berapi

Artefak Bangsa Lemuria

Senarai tulisan yang terdapat diukir pada dinding Kota. Ukiran-ukiran pahat berulang-ulang di kebanyakan sudut kota.

manuskrip tulisan melayu lama dalam simpanan Musium di London. Salah satu dari beribu-ribu manuskrip yang dibawa Stamford Rafles dari Singapura. Perhatikan beberapa aksara yang hampir menyerupai bentuk-bentuk tulisan yang terpahat lebih 10 ribu tahun dahulu.

Lemurian Icon
Keramik Bangsa Lemuria



Sumber:

10 Mitos yang Salah Tentang Sejarah Mesir Kuno


Bangsa Mesir Kuno penuh dengan aura misteri dan intrik terselubung, hal ini semakin dibuktikan oleh penemuan-penemuan arkeologis terbaru. Sayangnya, rasa kagum yang meliputi Mesir Kuno juga telah menghasilkan mitos yang tak terhitung jumlahnya.
Daftar ini akan menyelidiki kesalahpahaman yang paling umum tentang Mesir Kuno, dan mencakup beberapa penyimpangan yang menarik yang akan menerangi daerah baru dari budaya maju mereka.


10. Cleopatra Itu Sangat Jelita
 

Cleopatra VII,adalah Firaun terakhir dari Mesir Kuno, selalu menjadi tokoh budaya, yang terkenal karena kecantikannya yang sangat memikat . Ide ini telah diabadikan oleh semua orang dari Shakespeare untuk film sutradara Joseph L. Mankiewicz.
Namun, koin Romawi menunjukkan Cleopatra memiliki fitur maskulin: hidung besar, dagu menonjol dan bibir tipis - bukan archetype dari setiap budaya yang ingin menampilkan sosok feminim yang anggun
Di sisi lain, ia tidak memiliki kekurangan dalam kualitas intektualnya; sumber-sumber kontemporer mencatat kelebihan menonjol Cleopatra adalah sosok yang karismatik dan pintar, bukan kecantikan fisik.

9. Mesir Kuno Terobsesi Dengan Kematian

Membaca tentang Mesir Kuno dengan piramida mereka, mumi dan dewa-dewa , mudah untuk mencapai kesimpulan bahwa mereka sibuk dengan kematian.
Bahkan, tidak bisa lebih jauh dari kebenaran.Tenaga kerja berjumlah besar dari orang Mesir dalam upacara penguburan sebenarnya adalah suatu cara untuk memuliakan hidup .
Sebagai contoh, banyak ilustrasi yang menghiasi bagian dalam makam adalah perayaan dari pertanian, berburu dan memancing.
Selain itu, ornamen mahal yang terkubur dimaksudakan untuk membantu mereka yang mati mencapai akhirat, dimana mereka melanjutkan pekerjaan mereka di akhirat tanpa kesulitan.
Mummifikasi adalah cara untuk menjaga mayat agar awet seperti manusia hidup, sebagai bentuk ideal dari kehidupan sehari-hari. Mesir jelas terobsesi dengan kehidupan, bukan kematian.

8. Mesir Kuno Punya Kontak dengan Alien

ada beberapa yang percaya bahwa Mesir mempunyai kontak dengan alien. Mereka menyatakan bahwa piramida adalah prestasi super dan bahwa beberapa lukisan mural benar-benar menggambarkan makhluk luar angkasa.
Ini menghina warisan dari bangsa Mesir Kuno. karena Piramida Besar di Giza secara matematis memang sangat menakjubkan, namun konstruksinya tidak melampaui kepandaian para ilmuwan astronom jenius dan arsitek pada masa itu.
Dan sementara Piramida Besar berdiri sebagai struktur tertinggi selama hampir 4000 tahun, itu tidak berarti bahwa orang Mesir berteman dengan alien, itu hanya berarti bahwa tidak ada budaya yangh bisa menyaingi orang Mesir dalam membangun monumen setinggi itu sampai abad ke-19.
Mengenai mural, gambar di atas adalah penyebab dugaan Mesir kuno punya kontak dengan Alien

7. Peninggalan Mesir Kuno Sepenuhnya Terungkap

Banyak yang percaya bahwa kita telah menemukan segala sesuatu tentang Mesir Kuno, Tentang Upacara Kematian dan prosesi penguburan.
Ini tidak benar. Penemuan menarik masih terus berlangsung setiap hari tentang Mesir Kuno, mengungkap cahaya baru tentang peradaban mereka.
Sebagai contoh, sebuah "perahu bertenaga surya" saat ini sedang diekstrak dari Piramida Besar.
Hal ini diduga bahwa ,kapal surya ini akan memungkinkan Firaun yang mati untuk membantu dewa matahari Ra dalam pertempuran abadi dengan Apep, iblis dari kegelapan.
Setiap malam, Dewa Ra berlayar dengan perahu surya ke dalam pertempuran dengan Apep dan saat fajar ia muncul dengan kemenangan dan berlayar di langit.

6. Hieroglyphs

Orang tampaknya menganggap bahwa orang Mesir Kuno menemukan hieroglif. Namun, hieroglif primitif itu mungkin dibawa ke Mesir oleh penjajah Asia Barat.
Mitos lain, dipicu oleh gambar ular dan kaki tanpa tubuh, adalah bahwa hieroglif adalah bahasa kutukan dan mantra magis.

Pada kenyataannya, sebagian besar waktu hieroglif digunakan untuk prasasti berbahaya atau penggambaran historis.
Kutukan jarang ditemukan di kuburan dan sebagian dari mereka telah ditemukan impoten: "tahunnya akan berkurang", "Dia tidak akan memiliki pewaris".
Menariknya, hingga Batu Rosetta ditemukan pada tahun 1798, dan kemudian diterjemahkan, kebanyakan ahli percaya bahwa hieroglif itu ilustrasi, bukan suara fonetik sebagaimana huruf alfabet.

5. Dekorasi Piramida

Hieroglif banyak menutupi interior makam Mesir Kuno dan istana. Tapi bertentangan dengan mitos, piramida hampir tanpa dekorasi.
Memang, sampai saat ini piramida di Giza yang dianggap benar-benar polos di dalamnya.
Anggapan ini hancur ketika hieroglif ditemukan di balik pintu rahasia di Piramida Agung beberapa bulan lalu.
Juga, tidak semua piramida batu kapur berwarna berusia 4000 tahun : beberapa bagian, seperti pilar interior, dicat merah atau putih.
Cat dasar dan tulisan tersembunyi masih tersisa di piramida yang sangat keras, itu adalah arsitektur mereka, bahwa semen piramida sebagai bangunan batu tertua dan paling populer di dunia.

4. Firaun Membunuh Pelayannya

Ketika Firaun meninggal, pelayan mereka tidak dibunuh dan dikuburkan dengannya seperti yang populer diyakini, dan beberapa pengecualian.
Dua Firaun dari dinasti pertama Mesir yang dikenal telah mengubur pelayan mereka bersamanya.
Kecenderungan manusia untuk menggeneralisasi telah menyebabkan mitos bahwa kejadian penguburan pelayan bersama tuannya adalah umum terjadi di antara 300 atau lebih Firaun lainnya.
Firaun mungkin menyadari bahwa pelayan terpercaya mereka yang hidup lebih berguna daripada mati, sehingga mereka menguburkan diri dengan 'shabtis' sebagai gantinya.
'shabtis' adalah patung-patung animasi untuk membantu para Firaun di akhirat.

3. Piramida Dibangun Oleh Budak

Gagasan bahwa budak membangun piramida di Mesir telah beredar sejak laporan sejarawan Yunani Herodotus dalam abad ke-5 SM.
Hal itu ternyata palsu ketika makam berisi sisa-sisa pembangun piramida ditemukan di samping piramida di Giza. Warga Mesir Kuno yang dikubur di samping para Firaun akan menjadi kehormatan terbesar, tidak pernah diberikan kepada budak.
Selain itu, sejumlah besar tulang sapi berhasil ditemukan di Giza menunjukkan bahwa daging sapi, makanan lezat di Mesir Kuno, adalah makanan pokok dari pembangun.

Sangat jelas dibuktikan bahwa Pembangun piramida Mesir adalah pengrajin terampil, bukan budak seperti kata filem Hollywood atau mungkin dalam bibel yang membuat orang berpikir.

2. Perbudakan Bangsa Israel

Ini berikut pada dari mitos sebelumnya dan jelas masalah yang rumit. Sayangnya bagi mereka yang mengikuti bibel sebagai account harfiah dari sejarah, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Israel diperbudak di Mesir Kuno.
Kita tahu banyak tentang Mesir Kuno dari catatan menyeluruh mereka, namun mereka tidak pernah menyebutkan menjaga ras budak, mereka tidak pernah menyebutkan Sepuluh Tulah dan tidak ada informasi arkeologis yang menunjukkan jutaan Ibrani menghuni Mesir atau padang pasir.
Selain itu, jutaan budak yang melarikan diri akan menghancurkan perekonomian Mesir, namun hal ini berkembang pada 2 milenium SM ketika eksodus besar-besaran diduga terjadi.
Kemungkinan Bangsa Israel kala itu berada di bawah kasta-kasta terendah bangsa Mesir kuno, dan menjadi buruh kasar.. dan bukannya budak.

1. Kutukan Para Firaun

Populernya 'kutukan' mematikan bagi mereka yang membuka makam Firaun Tutankhamun adalah kemenangan propaganda media atas kerentanan masyarakat.

Mitos itu adalah tentang kutukan Tutankhamun membunuh sang sponsor ekspedisi Lord Carnarvon dan anggota lainnya dalam ekspedisi tersebut.
Meskipun beberapa teori telah datang dengan teori jamur berbahaya dan gas terakumulasi di dalam kubur, kematian mereka tidak memerlukan penjelasan khusus.
Hanya 8 dari 58 prang yang hadir pada pembukaan makam Tutankhamun meninggal dalam belasan tahun. Pemimpin ekspedisi Carter, target yang paling jelas untuk dikutuk, namun dia hidup selama 16 tahun selanjutnya.

kebetulan lainnya adalah kasus bias konfirmasi: setiap musibah yang menimpa orang dalam ekspedisi itu berasal Kutukan Firaun.
Kutukan adalah contoh utama dari impuls seseorang untuk percaya cerita menarik dan bukannya fakta. 
 

Tuesday, November 8, 2011

"Kota yang Hilang" Ditemukan di Gurun Libya

Membantah orang Romawi yang menyebut orang Garamantes barbar dan pembuat onar.
Selasa, 8 November 2011, 09:18 WIB
Elin Yunita Kristanti
reruntuhan kota yang hilang di gurun Libya (Toby Savage)
 
VIVAnews - Menggunakan satelit dan foto udara tim dari University of Leicester, Inggris mengidentifikasi reruntuhan di bagian paling tak ramah di Gurun Sahara, di wilayah Libya.

Sejauh ini, tim menemukan 100 wilayah pertanian yang dikelilingi benteng, desa-desa, dan struktur mirip istana dengan dinding yang masih tersisa setinggi 4 meter, serta lanskap kota. Kota itu diperkirakan berdiri pada  1 sampai 500 masehi. Tim juga menemukan pemakaman piramida, dan sistem irigasi canggih.

"Ini seperti seseorang yang datang ke Inggris dan menemukan Istana Abad Pertengahan. Keberadaan pemukiman kuno ini tak tercatat pada masa pemerintahan rezim Khadafi," kata pemimpin proyek, David Mattingly, seperti dimuat situs sains, Our Amazing Science, 7 November 2011. Jatuhnya penguasa Libya selama 42 tahun itu memungkinkan membuka ruang bagi arkeolog mengeksplorasi peradaban pra Islam di sana.

"Kota yang hilang" ini dibangun oleh peradaban yang tak begitu dikenal, bernama Garamantes, yang memiliki gaya hidup dan budaya yang relatif maju dan berperan penting dalam sejarah.

"Gambar satelit memberi kami kemampuan untuk menelaah wilayah yang luas. Kami dapat melihat dalam lanskap yang tak ramah ini, yang tak pernah ada hujan, suatu ketika pernah dipadati penduduk dan ditanami. Ini sangat luar biasa," kata Martin Sterry, yang bertanggung jawab dalam interpretasi citra satelit.

Temuan ini menentang pendapat bangsa Roma yang mengatakan, orang Garamantes barbar dan pembuat onar di wilayah tepian kekuasaan Romawi.
Peradaban di Sahara, Libya

"Faktanya, mereka sangat beradab. Tinggal di pemukiman luas, kebanyakan adalah petani di wilayah oasis. Mereka sangat terorganisir, ada kota dan desa, mengenal tulisan, seni, juga teknologi," kata Mattingly. "Garamantes justru perintis pembangunan di oasis dan membuka perdagangan trans-Sahara."

Para peneliti sebelumnya ikut mengungsi saat pasukan pemberontak menyerang rezim Khadafi Februari 2011 lalu. Mereka akan segera kembali. (umi)