Friday, October 31, 2014

JOMLO LIFESTYLE

 Oleh: YUSWOHADY (Detik Bloger)

Jomblo Lifestyle

Jomblo di masa lalu adalah sebuah aib memalukan. Namun sekarang, ia menjadi sebuah simbol sosial yang keren, cool, awasome. Saya nggak tahu kenapa bisa demikian. Mungkin ini yang disebut jaman edan. Semua serba kebolak-balik.
Ketika sebuah bangsa makin maju. Ketika masyarakatnya makin makmur. Dan ketika pola kehidupannya kian industrial-urban, maka kecenderungan mereka untuk tidak menikah menjadi kian besar. Di negara tetangga Singapura misalnya, satu dari lima warganegaranya ogah menikah dengan alasan macam-macam: mengejar karir, menghindari beban ekonomi yang berat, nggak mau repot, hingga alasan lifestyle. Seperti Singapura, di negeri ini jumlah jombloers pun kian merangkak naik.
Lifestyle
Bakal maraknya jombloers di Indonesia tak lepas dari revolusi kelas menengah yang memicu mobilitas sosial massif selama sekitar lima tahun terakhir. Saya sering mengatakan masyarakat kelas menengah memiliki tiga ciri. Mereka memiliki daya beli yang makin tinggi, knowledgeable, dan socially-connected. Mobilitas sosial ini menciptakan pergeserangaya hidup rural-agraris-tradisionalis menjadi urban-industrialist-modern.
Data BPS tahun 2010 mengatakan, usia kawin pertama (UKP) masyarakat kita adalah 22,3 tahun untuk wanita dan 25,7 untuk laki-laki. Coba bandingkan dengan UKP orang tua kita dahulu yang rata-rata sudah menikah di bawah usia 20 tahun. Tak bisa dipungkiri, merangkak naiknya UKP ini adalah buah dari pendidikan dan naik knowledgeability mereka.
Yang saya amati, naiknya sikap menunda perkawinan dan menjomblo kini tak hanya dipengaruhi faktor rasional (faktor ekonomi, umur, karir, kesiapan mental) berkat naiknya knowledgeability mereka. Sikap menjomblo ini kini juga mulai dipengaruhi oleh faktor koneksi sosial (social connection), dimana siapa kita di mata kolega, teman, komunitas, dan lingkungan kita menjadi demikian penting.
Masyarakat kelas menengah kita makin socially-connected yang didorong oleh pertumbuhan media sosial dimana eksis, narsis, ekspresi diri, dan pencitraan menjadi sesuatu yang penting dan bermakna. Ketika mereka semakin socially-connected, maka fenomena menjomblo memasuki babakan baru dimana alasan menjomblo tak lagi sebatas rasional-fungsional, tapi mulai memasuki ranah emosional-sosial. Menjomblo adalah sebuah pernyataan dan penanda identitas diri. Bahkan sikap menjomblo menjadi alat ekspresi diri dan pencitraan. Hasilnya, kini menjomblo bermetamorfse menjadi sebuah gaya hidup (lifestyle) yang keren, cool, dan awasome.
Hot Topic
Kalau dulu obrolan mengenai jomblo merupakan aib bagi empunya, maka kini sebaliknya, menjadi topik pembicaraan yang begitu atraktif. Di media sosial kini banyak kita temuai ekspresi kreatif dalam bentuk meme terkait jomblo. Meskipun ceritanya satire, isu jomblo menjadi cerita unik yang hangat diperbincangkan di ranah maya. Bahkan, ada beberapa blog yang secara serius menggarap isu jomblo.
Saking hot-nya, terkadang status jomblo menjadi sasaran empuk di lini masa sebagai objek sindiran dan satire yang justru mengasyikan. Hal atau momen apapun kerap dikait-kaitkan dengan jomblo. Contohnya saat 17 Agustus lalu, para netizen sibuk buat meme di media sosial mengenai lomba 17 Agustusan yang paling cocok untuk jomblo. Saking menariknya, meme ini sempat jadi trending topic di media sosial. Inilah fenomena isu tentang jomblo sangat menarik banyak orang.
Dalam beberapa tahun terakhir, kata galau dan galauers yang bisa menggambarkan pergumulan batin seorang jomblo menjadi sebuah magic word yang diminati untuk diperbincangkan. Beberapa situs secara cukup serius mengangkat isu seputar jomblo dan membangun komunitas jombloers. Situs ini mencoba membangun identitas, kepercayaan diri, dan kebanggaan di kalangan anggotanya. Jomblo.com misalnya, menebarkan ungkapan motivatif di front page-nya dengan kata-kata seperti: Jadikan hidupmu lebih positif, terhubung selalu dengan temanmu, dan buat hidupmu lebih berwarna.
Biro Jodoh Laris Manis
Dari sisi industri, saya melihat industri yang menyasar segmen jomblo secara khusus sedang booming di Tanah Air. Contohnya adalah bisnis biro jodoh atau mak comblang (matchmaker) dan konsultasi kepribadian untuk soal cinta. Fenomena banyaknya biro jodoh ini baru terjadi sekitar lima tahun terakhir. Ketika ekonomi sudah mapan, daya beli meningkat, tapi kesempatan dan keahlian menggaet calon pasangan hidup tak memadai, maka kelas menengah pun butuh biro jodoh. Coba kita tengok bagaimana banyaknya kantor biro jodoh profesional di Jakarta dan situs biro jodoh online.
Bisnis biro jodoh ini tumbuh luar biasa, seiring besarnya pula populasi jomblo di negeri ini. Kini mulai banyak orang yang memiliki lisensi matchmaker dari Amerika Serikat atau Eropa. Hitman System misalnya, adalah sebuah perusahaan relationship coach untuk percintaan. Hampir setiap bulan, Hitman System kerap membuat event seminar atau workshop untuk para jomblo. Saking hot-nya industri perjombloan, artis Christian Sugiono yang dikenal memiliki situs www.malesbanget.com pun kini membuka layanan biro jodoh online www.setipe.com.
Saking hot-nya bisnis perjombloan ini, beberapa biro jodoh membuka layanan biro jodoh untuk segmen muslim. Mereka mempertemukan pasangan sesama muslim. Contohnya adalah biro jodoh online www.syifa.com dan www.jodohislam.net. Selama ini, masyarakat muslim yang taat terhadap ajaran agamanya akan cenderung memilih pasangan hidupnya yang sama. Ini adalah niche market, sehingga model platform mencari pasangannya pun berbeda.
Seiring maraknya populasi jombloers di Indonesia, pasar jomblo akan kian moncer. Yuk marketer!!! Action now, or never bergerak sekarang juga, atau Anda nggak akan dapat apa-apa. (ditulis bersama Iryan Herdiansyah, Business Analyst, Inventure).

Tuesday, July 1, 2014

7 X Strategies and Tips to Make Your Small Business Marketing Profitable and Successful!

By   |  
As Entrepreneurs we are faced with the awesome (yet equally scary) tasks of plotting our own futures, making our own decisions and being 100% Responsible and Accountable for our own results.
Small Business Marketing is certainly an area that not only challenged myself when I started out, but also can be stressful for many awesome Small Business Owners out there. The bad news is that at the start it can be very hard to get a handle on, BUT the good news is that with objective assessment, continual work and review; one can improve it over time and succeed.

I get asked almost all the time by clients in very simple terms, "Edward - How do I make my Marketing Successful and Profitable?"
This is quite a broad question and the answer can certainly differ from client to client and circumstance to circumstance; however I would like to at least share with you the Top 7 X Strategies and Tips that I often recommend (and have been amazing for myself):

1) Top Product / Service Quality: Always start with what you are selling. The better your product / service, the easier it is to sell and get awesome word of mouth.

2) The Right Image: Make sure the image you deliver from your marketing is awesome and premium. From what you say, to how you dress, to your business cards, to your website, to sales material and more - the more professional you look, the stronger you are. Getting a professional designer helps!

3) Fair Pricing: You can charge Penetration (Below Market), Competitive (At Market) and Premium (Above Marketing) and either strategy has it's time and place. Make sure whatever you are charging YOU consider fair and you would pay it. Chances are so would the market!

4) Balance Real World and Online World: Business owners often lean too far one way. That is, they hide behind Facebook and don't leave their house or they are running around wearing out their Shoe-Leathers without even a Facebook Page. Get these both right so they work for you!

5) Challenge yourself with the Sales & Marketing Work Required: If you are starting out, it will take MASSIVE amounts of work to succeed. Regardless of any 'Magical' strategies and stories you hear. I have seen too many not succeed because they just don't work hard enough!

6) Get other people to help you: Be it building your own personal referral network or say hiring someone to build you an awesome website - the reality is that you can only push yourself so far. You want to leverage other people as much as possible while you achieve your goals (and help them achieve theirs while you are at it!).

7) Test & Measure: Always keep an eye on what you are doing and make sure it's working for you. If you say release some new business cards and people say they are wonderful - chances are it's good decision for your business. If you get up and do an elevator pitch at a networking event and you can hear the crickets - then time to tweak it!

I trust these short tips help you in your own Small Business Marketing. It's an ongoing process of tweaking, changing and experiment - the good news? The more we do it, the smart and more powerful we become.

Enjoy and contact me anytime if you need a hand awesome friends!
To learn more about Small Business Marketing and gain Instant Access to Edward Zia's Online Sales & Marketing Course the "Awesome Marketing Vault". Visit http://www.excellenceabove.com.au
Feel free to sign up to our Newsletter as well to get some great tools on the house. Contact me anytime if I can help answer your questions and thank you!
Edward Zia - Marketing Mentor and Developer of "The Awesome Marketing Vault". Visit my own blog right here at: http://www.excellenceabove.com.au/theedwardfiles

Monday, April 14, 2014

POPULASI DAN SAMPEL


Oleh : Hendry
A. Definisi
Populasi adalah wilayah generalisasi berupa subjek atau objek yang diteliti untuk dipelajari dan diambil kesimpulan. Sedangkan sampel adalah sebagian dari populasi yang diteliti.
Dengan kata lain, sampel merupakan sebagian atau bertindak sebagai perwakilan dari populasi sehingga hasil penelitian yang berhasil diperoleh dari sampel dapat digeneralisasikan pada populasi.
Penarikan sampel diperlukan jika populasi yang diambil sangat besar, dan peneliti memiliki keterbatasan untuk menjangkau seluruh populasi maka peneliti perlu mendefinisikan populasi target dan populasi terjangkau baru kemudian menentukan jumlah sampel dan teknik sampling yang digunakan.
B. Ukuran Sampel
Untuk menentukan sampel dari populasi digunakan perhitungan maupun acuan tabel yang dikembangkan para ahli.  Secara umum, untuk penelitian korelasional jumlah sampel minimal untuk memperoleh hasil yang baik adalah 30, sedangkan dalam penelitian eksperimen jumlah sampel minimum 15 dari masing-masing kelompok dan untuk penelitian survey jumlah sampel minimum adalah 100.
Roscoe (1975) yang dikutip Uma Sekaran (2006) memberikan acuan umum untuk menentukan ukuran sampel :
1.  Ukuran sampel lebih dari 30 dan kurang dari 500 adalah tepat untuk kebanyakan penelitian
2. Jika sampel dipecah ke dalam subsampel (pria/wanita, junior/senior, dan sebagainya), ukuran sampel minimum 30 untuk tiap kategori adalah tepat
3. Dalam penelitian mutivariate (termasuk analisis regresi berganda), ukuran sampel sebaiknya 10x lebih besar dari jumlah variabel dalam penelitian
4. Untuk penelitian eksperimental sederhana dengan kontrol eskperimen yang ketat, penelitian yang sukses adalah mungkin dengan ukuran sampel kecil antara 10 sampai dengan 20
Besaran atau ukuran sampel ini sampel sangat tergantung dari besaran tingkat ketelitian atau kesalahan yang diinginkan peneliti. Namun, dalam hal tingkat kesalahan, pada penelitian sosial maksimal tingkat kesalahannya adalah 5% (0,05). Makin besar tingkat kesalahan maka makin kecil jumlah sampel. Namun yang perlu diperhatikan adalah semakin besar jumlah sampel (semakin mendekati populasi) maka semakin kecil peluang kesalahan generalisasi dan sebaliknya, semakin kecil jumlah sampel (menjauhi jumlah populasi) maka semakin besar peluang kesalahan generalisasi.
Beberapa rumus untuk menentukan jumlah sampel antara lain :
1. Rumus Slovin (dalam Riduwan, 2005:65)
n = N/N(d)2 + 1
n = sampel; N = populasi; d = nilai presisi 95% atau sig. = 0,05.
Misalnya, jumlah populasi adalah 125, dan tingkat kesalahan yang dikehendaki adalah 5%, maka jumlah sampel yang digunakan adalah :
N = 125 / 125 (0,05)2 + 1 = 95,23, dibulatkan 95
2. Formula Jacob Cohen (dalam Suharsimi Arikunto, 2010:179)
N = L / F^2 + u + 1
Keterangan :
N = Ukuran sampel
F^2 = Effect Size
u = Banyaknya ubahan yang terkait dalam penelitian
L = Fungsi Power dari u, diperoleh dari tabel
Power (p) = 0.95 dan Effect size (f^2) = 0.1
Harga L tabel dengan t.s 1% power 0.95 dan u = 5 adalah 19.76
maka dengan formula tsb diperoleh ukuran sampel
N = 19.76 / 0.1 + 5 + 1 = 203,6, dibulatkan 203
3. Rumus berdasarkan Proporsi atau Tabel Isaac dan Michael
Tabel penentuan jumlah sampel dari Isaac dan Michael memberikan kemudahan penentuan jumlah sampel berdasarkan tingkat kesalahan 1%, 5% dan 10%. Dengan tabel ini, peneliti dapat secara langsung menentukan besaran sampel berdasarkan jumlah populasi dan tingkat kesalahan yang dikehendaki.
C. Teknik Sampling
Teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang secara umum terbagi dua yaitu probability sampling dan non probability sampling.
Dalam pengambilan sampel cara probabilitas besarnya peluang atau probabilitas elemen populasi untuk terpilih sebagai subjek diketahui. Sedangkan dalam pengambilan sampel dengan cara nonprobability besarnya peluang elemen untuk ditentukan sebagai sampel tidak diketahui. Menurut Sekaran (2006), desain pengambilan sampel dengan cara probabilitas jika representasi sampel adalah penting dalam rangka generalisasi lebih luas. Bila waktu atau faktor lainnya, dan masalah generalisasi tidak diperlukan, maka cara nonprobability biasanya yang digunakan.
1. Probability Sampling
Probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama kepada setiap anggota populasi untuk menjadi sampel. Teknik ini meliputi simpel random sampling, sistematis sampling, proportioate stratified random sampling, disproportionate stratified random sampling, dan cluster sampling
Simple random sampling
Teknik adalah teknik yang paling sederhana (simple). Sampel diambil secara acak, tanpa memperhatikan tingkatan yang ada dalam populasi.
Misalnya :
Populasi adalah siswa SD Negeri XX Jakarta yang berjumlah 500 orang. Jumlah sampel ditentukan dengan Tabel Isaac dan Michael dengan tingkat kesalahan adalah sebesar 5% sehingga jumlah sampel ditentukan sebesar 205.
Jumlah sampel 205 ini selanjutnya diambil secara acak tanpa memperhatikan kelas, usia dan jenis kelamin.
Sampling Sistematis
Adalah teknik sampling yang menggunakan nomor urut dari populasi baik yang berdasarkan nomor yang ditetapkan sendiri oleh peneliti maupun nomor identitas tertentu, ruang dengan urutan yang seragam atau pertimbangan sistematis lainnya.
Contohnya :
Akan diambil sampel dari populasi karyawan yang berjumlah 125. Karyawan ini diurutkan dari 1 – 125 berdasarkan absensi. Peneliti bisa menentukan sampel yang diambil berdasarkan nomor genap (2, 4, 6, dst) atau nomor ganjil (1, 2, 3, dst), atau bisa juga mengambil nomor kelipatan (2, 4, 8, 16, dst)
Proportionate Stratified Random Sampling
Teknik ini hampir sama dengan simple random sampling namun penentuan sampelnya memperhatikan strata (tingkatan) yang ada dalam populasi.
Misalnya, populasi adalah karyawan PT. XYZ berjumlah 125. Dengan rumus Slovin (lihat contoh di atas) dan tingkat kesalahan 5% diperoleh besar sampel adalah 95. Populasi sendiri terbagi ke dalam tiga bagian (marketing, produksi dan penjualan) yang masing-masing berjumlah :
Marketing       : 15
Produksi         : 75
Penjualan       : 35
Maka jumlah sample yang diambil berdasarkan masing-masinng bagian tersebut ditentukan kembali dengan rumus n = (populasi kelas / jml populasi keseluruhan) x jumlah sampel yang ditentukan
Marketing       : 15 / 125 x 95            = 11,4 dibulatkan 11
Produksi         : 75 / 125 x 95            = 57
Penjualan       : 35 / 125 x 95            = 26.6 dibulatkan 27
Sehingga dari keseluruhan sample kelas tersebut adalah 11 + 57 + 27 = 95 sampel.
Teknik ini umumnya digunakan pada populasi yang diteliti adalah keterogen (tidak sejenis) yang dalam hal ini berbeda dalam hal bidangkerja sehingga besaran sampel pada masing-masing strata atau kelompok diambil secara proporsional untuk memperoleh
Disproportionate Stratified Random Sampling
Disproporsional stratified random sampling adalah teknik yang hampir mirip dengan proportionate stratified random sampling dalam hal heterogenitas populasi. Namun, ketidakproporsionalan penentuan sample didasarkan pada pertimbangan jika anggota populasi berstrata namun kurang proporsional pembagiannya.
Misalnya, populasi karyawan PT. XYZ berjumlah 1000 orang yang berstrata berdasarkan tingkat pendidikan SMP, SMA, DIII, S1 dan S2. Namun jumlahnya sangat tidak seimbang yaitu :
SMP    : 100 orang
SMA    : 700 orang
DIII     : 180 orang
S1        : 10 orang
S2        : 10 orang
Jumlah karyawan yang berpendidikan S1 dan S2 ini sangat tidak seimbang (terlalu kecil dibandingkan dengan strata yang lain) sehingga dua kelompok ini seluruhnya ditetapkan sebagai sampel
Cluster Sampling
Cluster sampling atau sampling area digunakan jika sumber data atau populasi sangat luas misalnya penduduk suatu propinsi, kabupaten, atau karyawan perusahaan yang tersebar di seluruh provinsi. Untuk menentukan mana yang dijadikan sampelnya, maka wilayah populasi terlebih dahulu ditetapkan secara random, dan menentukan jumlah sample yang digunakan pada masing-masing daerah tersebut dengan menggunakan teknik proporsional stratified random sampling mengingat jumlahnya yang bisa saja berbeda.
Contoh :
Peneliti ingin mengetahui tingkat efektivitas proses belajar mengajar di tingkat SMU. Populasi penelitian adalah siswa SMA seluruh Indonesia. Karena jumlahnya sangat banyak dan terbagi dalam berbagai provinsi, maka penentuan sampelnya dilakukan dalam tahapan sebagai berikut :
Tahap Pertama adalah menentukan sample daerah. Misalnya ditentukan secara acak 10 Provinsi yang akan dijadikan daerah sampel.
Tahap kedua. Mengambil sampel SMU di tingkat Provinsi secara acak yang selanjutnya disebut sampel provinsi. Karena provinsi terdiri dari Kabupaten/Kota, maka diambil secara acak SMU tingkat Kabupaten yang akan ditetapkan sebagai sampel (disebut Kabupaten Sampel), dan seterusnya, sampai tingkat kelurahan / Desa yang akan dijadikan sampel. Setelah digabungkan, maka keseluruhan SMU yang dijadikan sampel ini diharapkan akan menggambarkan keseluruhan populasi secara keseluruhan.
2. Non Probabilty Sampel
Non Probability artinya setiap anggota populasi tidak memiliki kesempatan atau peluang yang sama sebagai sampel. Teknik-teknik yang termasuk ke dalam Non Probability ini antara lain : Sampling Sistematis, Sampling Kuota, Sampling Insidential, Sampling Purposive, Sampling Jenuh, dan Snowball Sampling.
Sampling Kuota,
Adalah teknik sampling yang menentukan jumlah sampel dari populasi yang memiliki ciri tertentu sampai jumlah kuota (jatah) yang diinginkan.
Misalnya akan dilakukan penelitian tentang persepsi siswa terhadap kemampuan mengajar guru. Jumlah Sekolah adalah 10, maka sampel kuota dapat ditetapkan masing-masing 10 siswa per sekolah.
Sampling Insidential,
Insidential merupakan teknik penentuan sampel secara kebetulan, atau siapa saja yang kebetulan (insidential) bertemu dengan peneliti yang dianggap cocok dengan karakteristik sampel yang ditentukan akan dijadikan sampel.
Misalnya penelitian tentang kepuasan pelanggan pada pelayanan Mall A. Sampel ditentukan berdasarkan ciri-ciri usia di atas 15 tahun dan baru pernah ke Mall A tersebut, maka siapa saja yang kebetulan bertemu di depan Mall A dengan peneliti (yang berusia di atas 15 tahun) akan dijadikan sampel.
Sampling Purposive,
Purposive sampling merupakan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan khusus sehingga layak dijadikan sampel. Misalnya, peneliti ingin meneliti permasalahan seputar daya tahan mesin tertentu. Maka sampel ditentukan adalah para teknisi atau ahli mesin yang mengetahui dengan jelas permasalahan ini. Atau penelitian tentang pola pembinaan olahraga renang. Maka sampel yang diambil adalah pelatih-pelatih renang yang dianggap memiliki kompetensi di bidang ini. Teknik ini biasanya dilakukan pada penelitian kualitatif.
Sampling Jenuh,
Sampling jenuh adalah sampel yang mewakili jumlah populasi. Biasanya dilakukan jika populasi dianggap kecil atau kurang dari 100. Saya sendiri lebih senang menyebutnya total sampling.
Misalnya akan dilakukan penelitian tentang kinerja guru di SMA XXX Jakarta. Karena jumlah guru hanya 35, maka seluruh guru dijadikan sampel penelitian.
Snowball Sampling
Snowball sampling adalah teknik penentuan jumlah sampel yang semula kecil kemudian terus membesar ibarat bola salju (seperti Multi Level Marketing….). Misalnya akan dilakukan penelitian tentang pola peredaran narkoba di wilayah A. Sampel mula-mula adalah 5 orang Napi, kemudian terus berkembang pada pihak-pihak lain sehingga sampel atau responden teruuus berkembang sampai ditemukannya informasi yang menyeluruh atas permasalahan yang diteliti.
Teknik ini juga lebih cocok untuk penelitian kualitatif.
C. Yang perlu diperhatikan dalam Penentuan Ukuran Sampel
Ada dua hal yang menjadi pertimbannga dalam menentukan ukuran sample. Pertama ketelitian (presisi) dan kedua adalah keyakinan (confidence).
Ketelitian mengacu pada seberapa dekat taksiran sampel dengan karakteristik populasi. Keyakinan adaah fungsi dari kisaran variabilitas dalam distribusi pengambilan sampel dari rata-rata sampel. Variabilitas ini disebut dengan standar error, disimbolkan dengan S-x
Semakin dekat kita menginginkan hasil sampel yang dapat mewakili karakteristik populasi, maka semakin tinggi ketelitian yang kita perlukan. Semakin tinggi ketelitian, maka semakin besar ukuran sampel yang diperlukan, terutama jika variabilitas dalam populasi tersebut besar.
Sedangkan keyakinan menunjukkan seberapa yakin bahwa taksiran kita benar-benar berlaku bagi populasi. Tingkat keyakinan dapat membentang dari 0 – 100%. Keyakinan 95% adalah tingkat lazim yang digunakan pada penelitian sosial / bisnis. Makna dari keyakinan 95% (alpha 0.05) ini adalah “setidaknya ada 95 dari 100, taksiran sampel akan mencerminkan populasi yang sebenarnya”.
D. KESIMPULAN :
Dari berbagai penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa teknik penentuan jumlah sampel maupun penentuan sampel sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan dari penelitian. Dengan kata lain, sampel yang diambil secara sembarangan tanpa memperhatikan aturan-aturan dan tujuan dari penelitian itu sendiri tidak akan berhasil memberikan gambaran menyeluruh

TEKNIK MENYUSUN KUISIONER UNTUK ANGKET PENELITIAN

copy dari blog tetangga dibuat oleh:

OLEH: DWI ENDAH KUSRINI

Jenis kuisioner ditentukan oleh metode penelitian yang digunakan:

Untuk penelitian kualitatif, informasi yang ingin didapatkan mayoritas adalah informasi yang lebih mendalam sehingga kuisioner yang diperlukan adalah kuisioner yang dapat mengeksplorasi jawaban responden

Untuk penelitian kuantitatif, informasi yang ingin didapatkan mayoritas adalah informasi yang menyebar, sehingga jumlah responden yang dibutuhkan besar dan pertanyaan-pertanyaan dalam kuisioner dirancang agar cepat dan mudah dijawab oleh responden:

  1. TRIBUT-ATRIBUT DALAM KUISIONER
  2. PENAMPILAN
  3. JENIS PERTANYAAN
  4. ITEM JAWABAN YANG DISEDIAKAN
  5. PENAMPILAN


Penampilan dalam kuisioner walaupun tidak menunjang penelitian tetapi penting untuk menarik minat responden untuk menjawab pertanyaan di dalam kuisioner. Penampilan kuisioner yang tertata rapi, dengan struktur pertanyaan yg baik akan membuat responden mudah untuk menjawab. Struktur jawaban sebaiknya dikelompokkan berdasarkan isi pertanyaan dan diurutkan dari yang termudah dijawab hingga tersulit untuk dijawab, misalnya kelompok pertanyaan demografi/identitas responden, perilaku, pendapat. Apabila kuisioner mempunyai banyak halaman bentuk buku dapat menjadi suatu pilihan.

JENIS PERTANYAAN
Jenis pertanyaan yang ada di dalam kuisioner sangat bergantung pada variabel-variabel yang hendak diukur dalam penelitian. Jenis pertanyaan juga sangat dipengaruhi oleh jenis metode penelitian  yang digunakan. Untuk penelitian yang kualitatif maka lebih banyak pertanyaan-pertanyaan terbuka, bahkan hampir semua open question. Untuk penelitian yang kuantitatif maka lebih banyak pertanyaan-pertanyaan tertutup, atau bisa gabungan terbuka dan tertutup.


Untuk penelitian kualitatif pertanyaannya tidak perlu berbentuk kalimat lengkap tapi cukup point-point bahasan. Contoh: Untuk mengukur tentang kepedulian masyarakat akan kondisi lingkungan sekitarnya maka pertanyaannya:
Keindahan:................................................
Kenyamanan:...........................................
Kebersihan:................................................dst
Sehingga responden boleh memberikan jawabannya sesuai keinginan mereka dengan panjang lebar, namun demikian perlu diperhatikan pada saat wawancara, interviewer boleh menjelaskan dalam bentuk pertanyaan dan harus berhati-hati agar tidak mengarahkan responden menjawab jawaban tertentu.

Untuk penelitian kualitatif sebaiknya jenis pertanyaan yang diberikan dalam bentuk kalimat lengkap dengan struktur kalimat yang benar agar tidak membingungkan responden. Jawaban yang disediakan harus mutually exklusif dan exhaustive, artinya seluruh jawaban yang disediakan memenuhi seluruh kriteria jawaban yg disediakan responden, dan tidak ada responden yg ada dalam dua kriteria atau lebih (terkecuali peneliti mengijinkan responden memilih lebih dari satu jawaban)

ITEM JAWABAN YANG DISEDIAKAN
Item jawaban yang disediakan harus sesuai ukuran variabel yang sedang dicari. Apabila skala data yang diinginkan adalah skala nominal maka item jawabannya juga harus berskala nominal, demikian juga dg skala ordinal. Apabila skala data yang diinginkan adalah skala interval atau rasio maka pertanyaannya harus berbentuk pertanyaan terbuka. Hati-hati dalam memberikan pertanyaan yang mengandung suatu ukuran frekuensi, misalnya sering, jarang, kadang-kadang. Item yang disediakan harus netral dan balanced, sehingga tidak mengarahkannya untuk menjawab jawaban tertentu.

Pertanyaan filter bisa dipergunakan untuk menyaring responden yang tidak masuk dalam kualifikasi
Keterangan untuk jawaban jangan terlalu jauh dari pertanyaannya. Hindari penggunaan istilah-istilah yang tidak umum, berbahasa asing dan membingungkan.

LANGKAH-LANGKAH MEMBUAT KUISIONER
Kusioner yang baik adalah kuisioner yang mampu menguhubungkan antara tujuan-konsep-variabel-kuisioner-metode pengolahan data
Contoh:



Langkah I Spesifikasikan informasi yang diperlukan

  1. Pastikan semua informasi didapatkan seluruhnya untuk menjawab permasalahan, permasalahan penelitian. Hipotesis, karakteristik tujuan penelitian
  2. Dapatkan target populasi yang jelas

Langkah 2 Tipe metode wawancara

Tentukan tipe wawancara yang ingin dilakukan.

Langkah 3 Isi pertanyaan secara individual
  1. Apakah pertanyaan tersebut perlu
  2. Apakah ada beberapa pertanyaan yang membingungkan
  3. Jangan memberikan pertanyaan yang berisi dua alternatif

Langkah 4 Mengatasi ketidakmampuan dan ketidakinginan untuk menjawab
  1. Apakah responden yang dipilih mengerti akan permasalahan yang akan ditanyakan
  2. Jika tidak, pertanyaan filter (seperti familiaritas, penggunaan produk, pengalaman masa lalu) harus ditanyakan sebelum menjawab topik penelitian.
  3. Dapatkah responden mengingat pertanyaan yang akan diberikan
  4. Hindari penghapusan kesalahan, pendekatan, dan kreasi pada jawaban
  5. Dapatkah responden memahami?
  6. Apakah isi pertanyaan ditanyakan secara benar
  7. Apakah informasinya sensitif:

  • Letakkan diakhir kuisioner
  • Dahului pertanyaaan dengan kata-kata bahwa perilaku yang ditanyakan adalah hal umum
  • Sembunyikan pertanyaan dalam kelompok dimana responden mau menjawab
  • Berikan beberapa katagori jawaban daripada menanyakan hal-hal khusus

Langkah 5 Pilihlah Struktur Pertanyaan
  1. Pertanyaan terbuka digunakan untuk riset eksploratory
  2. Gunakan struktur pertanyaan bila mungkin
  3. Pertanyaan multiple choice, alternatif jawaban harus mengikutkan kemungkinan jawaban yang mungkin dan harus mutually exclusive
  4. Dalam pertanyaan dikotomus, jika diperkirakan ada sejumlah orang yang terlihat netral tambahkan jawaban netral.
  5. Pertimbangkan untuk menggunakan teknik pemilihan terpisah untuk menekan bias dalam urutan dalam pertanyaan dikotomus dan multiple choice.
  6. Jika alternatif jawaban sangat banyak, pertimbangkan menggunakan lebih dari satu pertanyaan untuk memudahkan responden menjawab

Langkah 6 Memilih Kata-kata dalam pertanyaan 
  1. Definisikan isu dalam bentuk Siapa, Apakah, Kapan, Dimana, dan Mengapa
  2. Gunakan kata-kata yang biasa dan mudah dipahami responden
  3. Hindari kata-kata yang membingungkan responden: biasanya, normalnya, seringnya, selalu, kadang-kadang dst
  4. Hindari pertanyaan dengan kata-kata yang menuntun responden untuk menjawab jawaban tertentu
  5. Hindari alternative  pilihan yang tidak jelas
  6. Hindari asumsi yang tidak jelas
  7. Responden tidak dibolehkan memberikan perkiraan secara umum
  8. Gunakan pernyataan yang positif

 Langkah 7 Tentukan Urutan Pertanyaan
  1. Pertanyaan pembuka harus menarik, sederhana dan mudah
  2. Pertanyaan umum harus diletakkan dimuka
  3. Informasi dasar harus didapatkan diawal, dilanjutkan dengan klasifikasi dan diakhiri dengan identifikasi informasi.
  4. Pertanyaan sulit, sensitif, dan kompleks harus diletakkan diakhir
  5. Pertanyaan umum harus mendahului pertanyaan khusus
  6. Pertanyaan harus mengikuti urutan logika
  7. Cabang-cabang pertanyaan harus dirancang secara hati-hati untuk mendapatkan semua kemungkinan
  8. Pertanyaan yang menjadi cabang harus diletakkan sedekat mungkin dengan pertanyaan penyebab adanya cabang dan pertanyaan cabang harus durutkan sehingga memudahkan responden memberikan jawaban tambahan yang diminta


Langkah 8 Bentuk dan Tampilan
  1. Pisahkan kuisioner dalam beberapa bagian
  2. Pertanyaan dalam setiap bagian harus diberi nomor
  3. Kuisioner harus diberi kode terlebih dahulu
  4. Kuisioner harus diberi nomer secara serial
Langkah 9 Memperbanyak kuisioner
  1. Kuisioner harus mempunyai penampilan yang profesional
  2. Format seperti buku catatan harus digunakan untuk kuisionare yang panjang
  3. Setiap pertanyaan harus diperbanyak dalam satu halaman
  4. Jawaban vertikal dapat digunakan
  5. Kisi-kisi berguna bila ada sejumlah pertanyaan yang berhubungan yang menggunakan himpunan jawaban yang sama
  6. Kecenderungan untuk menjadikan satu pertanyaan untuk memperpendek kuisioner harus dihindari
  7. Arahan pengisian harus diletakkan dekat pertanyaan yang diberikan arahan


Langkah 10 Pretest
  1. Ujicoba atau pretest kusioner harus selalu dilakukan
  2. Semua aspek pada kuisoner harus diuji, termasuk isi pertanyaan, kata-kata, bentuk, dan tampilan, kesulitan pertanyaan dan instruksinya
  3. Responden yang diberi ujicoba harus responden yang akan disurvai sebenarnya
  4. Awali ujicoba dengan menggunakan intervew secara personal
  5. Bila survai ingin dilakukan dengan menggunakan telepon atau email, ujicoba juga dilakukan dengan cara yang sama
  6. Variasi dalam wawancara harus dilakukan dalam ujicoba
  7. Ukuran sampel dalam ujicoba kecil minimum 30 responden
  8. Gunakan analisis awal dan lakukan identifikasi masalah
  9. Sesudah revisi secara signifikan dilakukan pada kuisioner ujicoba lain bisa dilakukan dengan menggunakan sampel yang berbeda
  10. Respons yang didapatkan dari ujicoba harus dikoding dan dianalisis.
Mudah-mudahan membantu para mahasiswa skripsi/TA/Thesis,
salam